SEJARAH BERDIRINYA TUGU PAHLAWAN PENGLIPURAN

 

 

      

Bagian selatan Desa Wisata Penglipuran berdiri sebuah taman yang tertata dengan rapi bernama Taman Tugu Pahlawan Penglipuran. Tugu ini dibangun untuk memperingati serta mengenang jasa kepahlawanan rakyat Bangli yang dipimpin Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang lebih dikenal dengan nama Kapten Mudita bersama 18 anggotanya Di Kabupaten Bangli dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakalnya Tentara Nasional Indonesia (TNT), yang selanjutnya diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). I Wayan Mawa, I Geder, I Nengah Mondel yang ketiganya berasal dari Penglipuran ikut bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Anak Agung Gede Anom Mudita. Selesai pelatihan di Praja, Anak Agung Gede Anom Mudita menunjuk I Wayan Mawa sebagai komandan pasukan yang selanjutnya ditugaskan untuk membentuk pasukan di Banjar Penglipuran. Dalam pembentukan pasukan TKR di Banjar Penglipuran melibatkan organisasi adat seperti Sekaa Baris, Sekaa Gong dan Sekaa Daa. Mereka yang usianya muda ikut dalam pasukan, sedangkan yang usia tua dan para wanita ditugaskan sebagai pembantu umum seperti bagain dapur dan berjaga selama pelatihan berlangsung.

Kapten Mudita gugur melawan NICA atau penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Tugu Pahlawan Penglipuran dibangun oleh masyarakat Desa Penglipuran sebagai wujud bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang. Bersama segenap rakyat Bangli, Kapten Mudita berjuang tanpa pamrih demi martabat dan harga diri bangsa sampai titik dara penghabisan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Monument yang bertingkat sembilan didirikan pada tahun 1959 diatas daerah seluas 1,5 ha dengan arsitektur Bali dilengkapi dengan areal parkir, lapangann upacara dan bangunan Cura Yudha.